Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” dan “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan: “hal-hal yang berhubungan dengan akal”. Dalam pengertian lain kebudayaan adalah hasil karya cipta, rasa dan karsa manusia. Sedangkan menurut Antropologi kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Kebudayaan juga bisa berarti cara manusia menanggapi tantangan-tantangan hidup. Salah satu tantangan hidup yang dialami manusia adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan atau alam sekitarnya.
Salah satu contoh cara manusia menanggapi tantangan hidup yang berhubungan dengan lingkungannya dapat kita lihat pada Rumah Lanting yang banyak terdapat disepanjang sungai Martapura di Banjarmasin depan Masjid Raya Sabilal Muthadien. Banjarmasin yang terkenal dengan sungainya dan dulu mendapat julukan kota Seribu Sungai ditambah lagi keadaan tanah di Banjarmasin yang rata-rata ketinggiannya 0,16 meter di bawah permukaan laut membuat masyarakatnya berpikir bagaimana caranya menghadapi lingkungan yang lebih banyak diwarnai sungai dan rawa-rawa. Dulu orang menggunakan sungai sebagai pusat dari segala kegiatan. Melalui sungai mereka dapat saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Sungai juga merupakan gerbang antara masyarakat Banjar dengan dunia luar. Hal ini menyebabkan sungai menjadi pusat ekonomi bagi masyarakat Banjar, Sehingga masyarakat Banjar berpikir ingin membangun rumah tanpa kehilangan kesempatan untuk tetap menjalankan perputaran ekonominya. Apalagi kekhawatiran mereka membangun rumah di darat kalau terkena banjir atau terendam air saat sungai pasang.
Oleh sebab itu mereka melakukan cara yang bisa dibilang unik bahkan menarik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mereka mencoba berteman dengan alam dalam menjalankan kehidupannya. Mereka mendirikan Rumah Lanting. Rumah Lanting adalah salah satu rumah tradisional masyarakat Banjar. Rumah Lanting memiliki cirri-ciri: menggunkan atap pelana, mengunakan kayu pelampung untuk dasar rumahnya di atas air. Bahan utama pembuatan Rumah Lanting adalah kayu. Biasanya kayu yang dipilih adalah kayu ulin, meranti atau bangkirai. Kayu ini dipilih karena memiliki kekuatan untuk bertahan berpuluh-puluh tahun saat terendam dalam air. Kebanyakan yang digunakan sebagai pelampung untuk Rumah Lanting adalah kayu ulin yang masih berupa gelondongan. Kayu ulin merupakan kayu terkuat yang dikenal di Kalimantan Selatan, seringkali orang menyebutnya kayu besi karena dianggap kuat seperti besi.
Struktur Rumah Lanting mempunyai dua ruangan, yaitu: 1) ruang tamu yang merupakan tempat berkumpul keluarga, menerima tamu, memasak dan semua hal yang bersifat sosislisasi atau umum. 2) ruang tidur yang merupakan tempat pribadi, hanya orang-orang tertentu yang dapat masuk ke ruangan ini. Bagian rumah paling depan biasanya dijadikan tempat berdagang. Untuk kegiatan seperti mandi, mencuci dan lain-lain mereka lakukan di belakang rumah. Banyak Rumah Lanting yang dijadi tempat berdagang, seperti warung kelontong, menjual bahan baker, warung kopi, bahkan ada yang menjadikan Rumah Lanting sebagai tempat penginapan atau tempat karaoke.
Proses pembuatan Rumah Lanting adalah sebagai berikut: 1) mereka mencari kayu yang masih berupa gelondongan untuk dijadikan pelampung. Lalu diikat yang kuat selanjutnya kayu diturunkan kesungai. Rangka kayu ini diikatkan pada tiang yang ada di darat agar tidak terbawa arys sungai. 2) untuk selanjutnya mereka membangun rangka rumah selayaknya membuat rumah yang ada di darat. Mereka menggunakan atap berbahan daun rumbia agar rumah tidak menahan beban yang berat. Seiring berjalannya waktu mereka menggunakan seng yang lebih kuat dari rumbia dan tahan lama.
Alkisah, pada abad 17 -19 Masehi di sepanjang sungai Banjarmasin masih dipenuhi oleh Rumah Lanting. Hal ini menandakan bahwa pada jaman dulu masyarakat Banjar sudah mengembangkan kebudayaan yang merupakan hasil penyesuaian dirinya dengan lingkungannya. Mereka memahami bahwa sungai adalah tempat terpenting dalam kehidupanya. Bahkan dahulu ada larangan dari pemerintah Belanda untuk pembangunan rumah membelakangi sungai. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh sungai. Rumah Lanting yang terdapat di Banjarmasin memiliki kesamaan dengan yang terdapat di sepanjang sungai Musi di Palembang dengan sebutan Rumah Rakit.
Namun, sekarang Rumah Lanting mulai pudar dari peredarannya. Seperti yang dapat kita lihat di depan Mesjid Raya Sabilal Muthadien hanya ada beberapa Rumah Lanting yang tidak begitu terawat. Bagian pelampungnya banyak yang rapuh sehingga disaat sungai pasang ada bagian rumah yang nyaris terendam. Bahkan kayu-kayu penyangga rumahnya mulai banyak yang rapuh sehingga memberi kesan kumuh daerah sekitarnya. Bila dilihat lebih teliti sekarang Rumah Lanting hanya menjadi tempat mengikat speedboat, atau perahu yang sedang berlabuh. Sekarang masyarakat Banjar lebih banyak membangun rumah di darat karena pemerintah telah mengusahakan pengadaan lahannya. Pudarnya Rumah Lanting menandakan memudarnya juga jejak budaya masyarakat Banjar. Melalui Rumah Lanting kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan masyarakat Banjar pada jaman dulu. Walaupun Rumah Lanting mulai pudar, tapi diharapkan pada masyarakat Banjar tidak pernah pudar usahanya untuk melestarikan budaya banjar.